Oleh Dr. H. Kasypul Anwar, M.M.Pd

Tiga bulan sudah kita hidup berdampingan dengan virus Covid-19. Perilaku kehidupan dipaksa untuk berubah. Dari yang semula leluasa beraktivitas dan berinteraksi sosial, menjadi harus beradaptasi dengan kebiasaan di rumah saja, menjaga jarak, dan berperilaku hidup bersih. Kapan berakhirnya pandemi ini pun masih menjadi tanda tanya dan penuh ketidakpastian. Inilah yang membuat istilah “New Normal” terus digaungkan di berbagai media. Sekali lagi, kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kenormalan baru yang semula tidak normal. New Normal atau kehidupan normal yang baru, memiliki makna bahwa kita dapat beraktivitas secara normal seperti sebelum dilanda Covid-19, namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Kita harus siap siaga untuk menghadapi era normal baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan normal sebelumnya. Dari yang awalnya bebas berinteraksi dengan orang, sekarang kita harus mematuhi protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun. Tentu normal saat ini memiliki nuansa yang sangat berbeda. Seluruh sektor kehidupan akan bersiap-siap menerapkannya, tak terkecuali dalam sektor pendidikan.

Tak bisa dipungkiri, pandemi ini telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan kebijakan Belajar dari Rumah atau Learning From Home. Kita dipaksa untuk mampu beradaptasi dan bergerak cepat, menyesuaikan tantangan zaman, serta memaksimalkan kreativitas dan teknologi. Pada konteks inilah konsep “merdeka belajar” yang digagas oleh Mas Menteri menjadi relevan. Merdeka belajar merupakan konsep belajar secara mandiri dan kreatif yang memungkinkan pihak-pihak yang terlibat untuk terus berinovasi, terutama dengan membangun ekosistem pendidikan berbasis teknologi. Ya, selama Learning From Home kita tetap berusaha mewujudkan Kemerdekaan Belajar itu, bukan? Tiba-tiba saja kita mulai bersahabat dengan aplikasi seperti Zoom, Google Classroom, Webex, Rumah Belajar, dan kawan-kawannya. Namun nyatanya, merdeka belajar belum sepenuhnya memerdekakan pelaku pendidikan. Pasalnya banyak polemik yang menghantui selama perjalanannya. Keterbatasan koneksi internet dan perangkat penunjangnya di sejumlah daerah, serta guru yang masih butuh peningkatan kompetensi adalah sebagian dari “hantu” yang berkeliaran dalam pendidikan kita. Kenyataan ini begitu rumit sehingga kita butuh suatu kenormalan baru dengan secercah harapan. Lantas bagaimana pendidikan kita mewujudkan Merdeka Belajar menyambut era “New Normal” ini?

Merdeka belajar dapat diwujudkan dengan menggali potensi para pendidik dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Apa artinya? Disinilah kualitas guru menjadi kunci utama. Guru yang berkualitas dan berkompeten dapat mendorong kesuksesan belajar siswa. Guru tidak akan bisa digantikan oleh teknologi. Teknologi hanyalah alat bantu guru dalam meningkatkan potensi mereka dan menjadi penggerak terbaik untuk mereka dapat memimpin pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, konsep pelatihan guru perlu disesuaikan dengan kurikulum yang lebih fleksibel. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa. Sehingga konsep pelatihan tersebut menjadi lebih praktis. Dengan menggali potensi guru, guru akan tampil sebagai penggerak, harapannya potensi murid dapat terus tergali, inovasi pendidikan akan terus mengalir, dan kualitas pendidikan dapat terus maju.

Merdeka Belajar tidak mungkin berhasil tanpa teknologi. Ada hal penting yang perlu digarisbawahi disini, bahwa penggunaan teknologi bukan semata-mata memindahkan data dari bentuk fisik ke bentuk digital. Mindset ini perlu segera diubah. Teknologi bukan sekedar wadah untuk memberi tugas dan materi pelajaran, namun perlu didampingi dengan inovasi, kreasi, kolaborasi, komunikasi, dan evaluasi selama penggunaan teknologi tersebut. Lagi-lagi hal ini tidak keluar dari esensi pendidikan yaitu kualitas guru dengan “panggilan jiwa” mengajar yang dimilikinya. Disini teknologi bukan sekadar model online saja melainkan bisa bermacam-macam jenisnya, contohnya belajar melalui tayangan TVRI yang tengah digalakkan oleh Kemendikbud. Dalam penggunaan teknologi,  siswa harus difasilitasi untuk aktif belajar bukan berpusat pada guru. Sekarang tidak ada tuntutan yang kuat siswa harus ikut ujian. Hal ini membuka kesempatan bagi guru dan pihak-pihak terkait untuk membuat inovasi-inovasi pembelajaran untuk kebutuhan belajar siswanya. Itulah prinsip merdeka belajar yang didorong penerapannya dalam pembelajaran. Dengan memaksimalkan teknologi maka akan terjadi akselerasi merdeka belajar. Namun, pandemi Covid-19 seolah membongkar bahwa akses pendidikan di Indonesia tidak merata, hal ini terkait dengan sarana dan prasarana. Sehingga terdapat kesenjangan yang besar antara mereka yang memiliki akses teknologi dengan yang tidak. Padahal, teknologi memiliki potensi pemerataan akses atau kesempatan mendapat akses yang setara terhadap materi dan pembelajaran yang sama.

Merdeka belajar dapat diwujudkan pula dengan memaksimalkan desain kurikulum. Pendidikan kita perlu “kenormalan baru” dari segi kurikulum dengan cara memaksimalkan implementasi kurikulum berdasarkan kenyataan yang ada di tengah pandemi saat ini. Adaptasi kurikulum bagi daerah yang mampu menggelar sistem pembelajaran online akan seperti apa. Sedangkan daerah yang hanya mampu belajar offline, adaptasi kurikulumnya bagaimana. Begitu pula dengan adaptasi guru dan dinas pendidikan di daerah tersebut. Hal ini tidak bisa disamaratakan, mengingat fasilitas penunjang pendidikan setiap daerah di Indonesia pun berbeda-beda. Dengan kesenjangan pendidikan yang masih begitu nyata, desentralisasi pendidikan dapat dimaksimalkan. Masing-masing daerah pasti memiliki sudut pandang dan kearifan lokal tersendiri untuk dapat dikembangkan dalam upaya bersama-sama mewujudkan SDM unggul. Terlebih dalam suasana “New Normal” sudah semestinya setiap pendidikan di daerah diberikan keleluasaan untuk MERDEKA.

Prioritas terpenting dari “New Normal” adalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan. Saat ini memang belum diputuskan kapan kepastian anak-anak akan masuk sekolah. Para pengambil kebijakan harus memutuskan sesuatu yang bisa menyelamatkan jiwa pelaku pendidikan, yakni guru dan siswa, karena terkait masa depan generasi bangsa. Daerah dengan tidak adanya akses teknologi dibarengi dengan penyebaran Covid-19 yang sudah tidak terjadi, dapat mempertimbangkan sistem belajar mengajar berbasis luring/tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Di balik itu, pemerataan sarana prasarana teknologi masih menjadi PR yang harus diselesaikan. Selain itu, beberapa daerah yang belum bisa melakukan kegiatan belajar mengajar lantaran penularan Covid-19 masih terjadi, maka harus belajar dengan sistem daring. Selain kedua jenis model pembelajaran tersebut, terdapat opsi lain yakni Blended Learning maupun Flipped Classroom, yang merupakan penggabungan model daring dan luring. Apapun itu, yang terpenting adalah pola pembelajaran yang diterapkan di New Normal wajib memegang prinsip tidak membahayakan dan realistis, dimana orientasi pembelajarannya berdasar pada kebutuhan siswa, Disinilah merdeka belajar itu diterapkan.

Berbicara mengenai Blended Learning, bagaimana model pembelajaran ini berlangsung? Ya, jika proses pembelajaran di kelas kembali dibuka maka model ini nampaknya bisa menjadi opsi untuk dipilih. Waktu belajar di kelas dipangkas menjadi lebih pendek, dan sisanya dilakukan secara daring (online) dengan berbagai platform digital yang dikuasai oleh guru atau fasilitas yang dimiliki sekolah. Pembelajaran luring (offline) dapat dilakukan terpisah dengan membentuk kelompok-kelompok belajar skala kecil sehingga meminimalisir berkumpulnya siswa di satu tempat. Pertemuan face to face ini bertujuan untuk pendalaman materi dan diskusi dengan siswa. Model pembelajaran yang hampir mirip, Flipped Classroom, juga menerapkan metode daring dan luring. Pendekatan ini membutuhkan skill guru dalam membuat dan mengemas video pembelajaran yang bersifat discovery learning dan Problem Based Learning, dimana siswa akan belajar secara mandiri secara luring dirumah tentang materi yang dipelajari, kemudian di diskusikan secara mendalam dengan face to face di kelas melalui kelompok kecil. Lantas model pembelajaran apa yang sebaiknya kita terapkan? Ya kembali lagi, disinilah desentralisasi pendidikan itu harus dimaksimalkan. Sejumlah daerah dapat berbeda dalam menyikapi rencana new normal di bidang pendidikan.

Banyak hal yang harus diperhatikan ketika anak-anak harus kembali masuk ke sekolah, terlebih di tengah pandemi. Hal ini terkait kesiapan sekolah, orangtua, dan pemerintah. Skenario penerapan protokol kesehatan harus disiapkan. Mulai dengan mengukur suhu tubuh di pagi hari, tidak ada jabat tangan antar siswa dan guru, ruang kelas hanya diisi 50%, pembelajaran dengan dua sistem shift, jam belajar sekolah dibuat lebih singkat, anak-anak harus lebih hati-hati dalam berinteraksi, sekolah menyiapkan fasilitas penunjang protokol kesehatan, dan masih banyak lagi. Apakah sekolah sudah siap untuk menyambut New Normal yang seperti ini?

“New Normal” menuntut para pendidik dan peserta didik untuk adaptif dengan keadaan yang ada. Era pandemi ini harus kita lihat dengan perspektif ke depan, dengan sudut pandang positif. Keadaan saat ini menuntut kita untuk berakselerasi terhadap perubahan keadaan. Transformasi dunia pendidikan di era “New Normal” sejalan dengan konsep Merdeka Belajar. Begitu pula dengan pembelajaran daring untuk menjawab tuntutan dunia pendidikan menghadapi Revolusi Industri 4.0. Ada hikmah dibalik semuanya. Kebijakan yang dikeluarkan dalam menghadapi euphoria New Normal yang terus digaungkan harus dibuat secara cermat dan hati-hati. Hak anak harus menjadi prioritas, yakni hak mendapatkan pendidikan secara penuh, aman, dan sehat. Anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga, harapan dan masa depan bangsa ada di tangan mereka. Semoga pandemi ini segera berakhir dan mampu meninggalkan catatan baik dalam perjalanan transformasi pendidikan kita. Semoga generasi penerus bangsa segera mendapatkan pendidikan yang berkualitas secara maksimal sehingga mampu menjawab tantangan di masa kini dan masa depan. Apapun kondisi dan keadaannya, mencetak SDM unggul harus menjadi fokus utama kita semua.

Leave a Comment